Ikatan Keseminatan Kardioserebrovaskular Indonesia
Posisi Anda : Hari ini : Kamis, 13 Desember, 2018

Gangguan Akibat Alkohol


Gangguan Akibat Alkohol

Minggu, 23 Agustus, 2009

Definisi
Gangguan individu dalam menjalankan Fungsinya baik secara sosial, keluarga, pekerjaan dan aktivitasnya sehari-hari yang berhubungan dengan penyalahgunaan dan ketergantungan alkohol adalah salah satu gangguan berhubungan yang paling sering, serius dan berbahaya di dalam masarakat kita. Biaya langsung dan tidak langsung yang telah dikeluarkan untuk gangguan ini diperkirakan lebih dari 150 milyar dolar.

Sering ditemukan gangguan pada hati, jantung, pancreas dan perdarahan saluran pencernaan dikarenakan penyalahgunaan alkohol. Penggunaan alkohol secara rutin dapat menyebabkan gangguan pada berbagai organ dan juga dipercayai menjadi salah satu penyebab kanker yang sedang diteliti. Istilah penyalahgunaan alkohol yang sering digunakan adalah alkoholism .

Epidemiologi
Diperkirakan lebih dari 85 persen penduduk di AS pernah menkomsumsi alkohol sekurang-kurangnya satu kali dalam seumur hidupnya dan sekitar 51 persen dari semua orang dewasa di AS merupakan pengguna alkohol yang cukup rutin hingga sekarang ini. Penyalahgunaan alkohol lebih umum terjadi di masyarakat yang berpendapatan rendah dan kurangnya pendidikan.

Sekurang-kurangnya terdapat 200.000 kematian yang berhubungan dengan alkohol tiap tahunnya. Penyebab kematian yang sering adalah bunuh diri, kanker, penyakit jantung dan penyakit hati.

Kelompok usia dengan presentasi penggunaan alkohol tertinggi adalah antara 20 tahun hingga 35 tahun. Sedangkan dari jenis kelamin, laki-laki secara bermakna lebih mungkin menggunakan alkohol daripada wanita. Dari segi ras, penggunaan alkohol lebih banyak terdapat pada kaum kulit putih dibandingkan dengan kaum kulit hitam.

Patofisiologi
Gangguan berhubungan dengan alkohol seperti hampir semua dengan keadaan psikiatri yang lainnya, mewakilii suatu kelompok yang heterogen, dan pada setiap kasus individual bervariasi penyebabnya yang meliputi faktor Psikososial, faktor keturunan faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Alkohol di dalam tubuh mempengaruhi hampir setiap sitem organ dan di dalam dosis tinggi dapat menyebabkan koma atau kematian. Alkohol mempengaruhi beberapa system saraf, termasuk opiate, GABA, glutamate, serotonin dan dopamine. Peningkatan kadar opiate di dalam darah menjelaskan efek bahagia di dalam alkohol yang juga diterangkan oleh peningkatan GABA yang mempengaruhi efek mengantuk / sedative dan tenang.

Gejala dan Tanda
Beberapa gejala dan tanda yang menjadi kriteria diagnosis dan gambaran klinis dari penyalahgunaan alkohol.

  • Ketidakmampuan untuk memutuskan atau berhenti minum alkohol
  • Usaha berulang untuk mengontrol atau menurunkan minum yang berlebihan dengan tidak minum minuman keras, atau membatasi minum pada waktu tertentu
  • Pesta minuman keras (tetap keracunan sepanjang hari atau minimal 2 hari)
  • Menkonsumi lima takaran minuman keras
  • Periode lupa ingatan untuk peristiwa yang terjadi selama terintokasi
  • Terus minum walaupun ada gangguan fisik yang telah diketahui akibat penggunaan alkohol yang berlebihan
  • Minum alkohol yang bukan minuman seperti bahan bakar
  • Gangguan dalah fungsi sosial dan pekerjaannya akibat penggunaan alkohol.

Beberapa gejala Intoksikasi alkohol

  • Baru saja menggunakan alkohol
  • Perilaku psikologis yang bermakna secara klinis, contoh perilaku seksual atau agresif yang tidak tetap
  • Satu atau beberapa tanda yang berkembang selama penggunaan alkohol
  • Bicara cadel
  • Inkoordinasi
  • Gaya berjalan tidak mantap
  • Nistagmus
  • Gangguan atensi atau daya ingat
  • Stupor atau koma.

Beberapa gejala efek balik alkohol

  • Mual dan muntah
  • Agitasi dan cemas
  • Sakit kepala, gemetar atau kejang
  • Gangguan halusinasi baik suara maupun penglihatan
  • Nadi Cepat atau tekanan darah tinggi
  • Meningkatnya temperature tubuh
  • Penurunan kesadaran

Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan tambahan lain yang diperlukan adalah pengukuran alkohol di dalam darah, jika melebihi 300 mg/ dl dapat menunjukan intosikasi akibat alkohol.

Penatalaksanaan
Walaupun dikatakan pengendalian minuman akan alkohol adalah terapi yang baik dari penyalahgunaan alkohol, menurut beberapa penilitian bahwa Sama sekali tidak menkomsumsi alkohol adalah jalan terbaik dalam keberhasilan untuk pengobatan penyalah gunaan alkohol. Hal ini dilakukan untuk menghindari kembalinya pecandu alkohol dalam memasuki alam euphoric yang disebabkan oleh alkohol. Biasanya pasien yang datang berobat adalah pasien yang ditekan oleh lingkungan baik dari keluarga maupun pasangannya, atau ketakutan akan kematian yang disebabkan oleh alkohol. Pasien yang memiliki tekanan atau bujukan dari luar memiliki kemungkinan untuk sembuh daripada pasien yang tidak memiliki tekanan dari dunia luar.

Tetapi prognosis (perkiraan mengenai jalannya penyakit) yang terbaik adalah orang yang datang mencari pengobatan yang datang ke petugas kesehatan secara sukarela dan menyadari bahwa mereka membutuhkan pertolongan
Beberapa terapi yang dapat digunakan adalah psikoterapi, medikamentosa dan terapi perilaku.

Psikoterapi memusatkan kepada alas an penyebab kenapa seseorang melarikan diri ke minuman alkohol pada pertama kalinya. Dengan mengetahui penyebab dan menyelesaikan pusat masalah dari seseorang, kecenderungannya untuk melarikan diri ke dalam alkohol dapat diminimalisasi.

Penggunaan medikamentosa seperti Disulfiram, yang dapat menghambat secara kompetitif enzim aldehida dehidrogenase sehingga minuman segelas pun akan meneyebabkan reaksi toksik. Pemberian obat tidak boleh dimulai sampai 24 jam setelah minuman terakhir. Penggunaan antiacemas dan antidepresi juga dapat digunakan pada pasien untuk mengurangi gejala kecemasan dan depresi pada pasien yang berhubungan dengan alkohol.

Terapi Perilaku mengajarkan seseorang dengan gangguan berhubungan dengan alkohol untuk menurunkan kecemasan. Latihan relaksasi melalui pernafasan dan pengendalian diri seperti mengikuti kursus-kursus yang dapat menenangkan diri baik dari segi agama maupun budaya dapat menurunkan perilakunya untuk menkonsumsi alkohol .[]



Berita Lainnya

Rab, 11 Nov, 2009
TATA LAKSANA PASCA SINDROM KORONER AKUT

Daulat Manurung, Ryan Ranitya Divisi Kardiologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pendahuluan Fase akut dari SKA umumnya sekitar 2 bulan. Risiko program jadi infark akut (MI) atau risiko timbulnya rekuren MI atau kematian pada periode ini sangat tinggi. ...

Detail


Rab, 11 Nov, 2009
STENOSIS AORTA

Marulam M. Panggabean Divisi Kardiologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta Etiologi Kalsifikasi senilis ,penyakit jantung rematik,aorta bikuspid dan kelainan kongenital lainnya merupakan etiologi paling sering. Di negara maju, etiologi tersering adalah kalsi ...

Detail


Rab, 11 Nov, 2009
ANTIPLATELET DALAM PENGOBATAN SINDROM KORONER AKUT

Hanafi B Trisnohadi Divisi Kardiologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta Sindrom koroner akut (SKA) disebabkan karena pembuluh koroner tersumbat oleh trombus yang timbul akibat ruptur plak. Bila pembuluh koroner tersumbat total akan terjadi infark jantung akut ...

Detail

Stroke dan Jantung Pembunuh Nomor Satu di Indonesia
Kam, 5 Nov, 2009
Stroke dan Jantung Pembunuh Nomor Satu di Indonesia

Konferensi Pers The 9th National Brain & Heart Symposium 26-27 Maret 2009 Hotel Planet Holiday Batam, KETUA Umum PB IDI, Fahmi Idris (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai membuka 9th National Brain dan Heart Symposium di Hotel Planet Holiday Batam, Kamis (26/3). BATAM (BP) - Risiko p ...

Detail